DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Minggu, 14 Agustus 2011

Kolektif dalam Berorganisasi

Semalam saya habis ngeliat serah terima pemindahan M. Nazaruddin dari Badan Interpol Indonesia kepada KPK ditipi. Berita tertangkapnya peran utama dibalik kasus wisma atelit dan segelintir kasus lainnya tersebut mengundang banyak perhatian masyarakat kala itu. Dari mulai pelarian Nazarudin ke Singapura, penyerangannya terhadap KPK dan ketua umum Partai Demokrat, hingga penangkapanya di Kolombia akhir pekan ini seakan membuat publik disuguhi sebuah cerita film Hollywood tentang pengejaran mafia/buronan Negara. Bieh...keren nih kalau emang dijadiin film layar lebar beneran batinku. Bakalan laris maniz......

Setibanya turun dari pesawat carteran, aktor yang terbilang cukup sulit dilacak keberadaannya oleh KPK maupun pihak Kepolisian itu langsung digiring menuju ke kantor KPK dengan penjagaan super ketat oleh polisi berseragam lengkap. Dalam jumpa pers yang dilakukan oleh pihak KPK setelah serah terima malam itu, mereka memaparkan seluruh proses penangkapan hingga tehnis pemulangan Nazaruddin dari Kolombia ke Indonesia yang cukup memakan waktu lama dan biaya yang sangat besar. Bayangkan aja, 4 milyar rupiah hanya untuk memulangkan mantan artis Bendahara Partai Demokrat ini. Hedeh...4 miliar rupiah habis hanya dalam waktu 36 jam #geleng-geleng#.

Malam itu, KPK memaparkan dan memberikan keterangan penjelasan kepada masyarakat melalui wartawan agar ada transparan dan keterbukaan KPK kepada publik. Maklum, akhir-akhir ini penilaian masyarakat terhadap KPK yang dianggap mampu memberantas tikus-tikus koruptor semakin diragukan kapasitasnya. Malam itu saya tiba-tiba saja merasa tertarik untuk melihat dan mengikuti siaran langsung yang hanya ditayangkan oleh 2 stasiun televisi #cuman TV One dan Metro TV#. Saya mencoba untuk menyimak jumpa pers itu walau mata sudah mulai sayup-sayup redup. Rugi dong ngikutin Seputar Indonesia tiap hari kalau g tau ending ceritanya.

Keberhasilan tersebut tak luput dari sebuah koletifitas tim antar semua pihak yang turut berperan penting dalam penangkapan dan pemulangan Nazaruddin. KPK, Polisi, Bareskrim, Interpol, Kedubes RI, maupun media bersama sama mengakhiri napak tilas dan kicauan Nazaruddin tersebut. Begitulah yang telah dipaparkan oleh salah satu pembicara dalam jumpa pers malam itu. Saya salut untuk mereka semua...Hebat #jempol#.

Mendengar kata kolektif dalam jumpa pers tersebut, saya langsung teringat pada sebuah organisasi yang saya ikuti dikampus. Entah mengapa kata tersebut serasa sulit atau bahkan tak terlihat kepada seluruh penghuni didalamnya. Seakan tidak lagi memiliki nafas semangat progres untuk kemajuan organisasinya. Eksistensi organisasi tidaklah lagi dijadikan sebagai media belajar sebagaimana fungsinya, malah dijadikan tempat persinggahan istirahat, bercengrama, online, bahkan menjadi home theater untuk menonton film. #kayak anggota DPR#. Begitulah yang saya lihat saat itu.

Dalam kaca mata penglihatan saya, untuk menumbuhkan kolektifitas dalam berorganisasi dibutuhkan sifat gotong royong dalam segala hal kehidupan atau semua aspek kehidupan. Apalagi manusia adalah makhluk sosial, tidak lah luput dari bersosialisasi sesama makhluk hidup. Dengan kata lain memang untuk mensolidkan anggota yang satu dengan yang lain maupun berdinamika dalam sebuah organisasi, memang dibutuhkan sebuah kerjasama dan gotong royong tersebut, karena di dalam kehidupan kolektif dan kebersamaan berorganisasi tidaklah bisa berjalan sesuai essensinya guna mewujudkan tujuan bersama bila mana berjalan sendiri. Karena bila kita berjuang sendiri dengan kekuatan seadanya yang kita miliki sendiri, sekiranya sangat lah kurang sekali apabila berbicara mengenai konteks mewujudkan tujuan bersama didalam sebuah organisasi. 

Tidaklah mungkin organisasi itu dapat bertahan atau berdiri lama tanpa adanya kehidupan kolektif dan kebersamaan. Sama halnya seperti kasus tertangkapnya M. Nazaruddin akhir pekan ini, tidak mungkin KPK dapat menangkap Nazaruddin apabila hanya di lakukan satu orang saja. Bila dianalogikan sama halnya seperti permaianan sepakbola. Barcelona tidak akan menjadi klub sehebat sekarang bilasanya Lionel Messi ataupun pemain lain bermain sendiri dilapangan menuruti egonya masing-masing. #wah…entar malem el classico nih#.


0 komentar:

Posting Komentar