DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Jumat, 02 November 2012

“So Far So Good, Everything's Gonna Be Alright”.

Semua terlihat tegang. Penantian gelar yang akan disandang, membuat wajah itu cemas menjelang disidang. Ada degup jantung yang bergenderang, keluar melompat seakan mencari suasana yang tenang. Begitulah suasana wajah yang terlihat di sudut lorong ruangan. Harap-harap cemas bergejolak, menanti waktu penentu dari empat tahun yang berlalu.   

THE ROSE WITH THE LARK. Alarmku berbunyi tepat jam tujuh pagi. Embun kian terbakar disaat mentari mulai menyinari. Tubuh-tubuh ontai beranjak bangun dari pembaringan, syaraf-syaraf kaku terasa sakit akibat tidur tengkurap semalam. Bangun dan mandi pagi adalah cobaan terbesar yang harus dihadapi. Ini seperti mengikuti sebuah kompetisi extreme di sebuah acara televisi. Finally, berhasil. Sel hormon pun kembali bereproduksi.

TAK BERUBAH. Sepasang mata mengintip melalui jendela. Mata yang tiada henti menggumamkan cerita. Pagi itu terlihat sama seperti pagi biasanya. Puntung rokok, gelas bekas kopi, tumpukan kartu dan wajah-wajah tak beraturan yang masih tergeletak diruang tamu. Semua seperti pasangan puzzle yang tak dapat diselesaikan.  

THE FINAL DAY. Hari itu adalah hari dimana seluruh Mahasiswa merasakan hal yang paling mendebarkan. Ujian Sidang Skripsi. Sebuah ujian dimana Karya ilmiah yang dikerjakan selama satu semester akan diuji oleh para Dosen penguji. Layak tidaknya mereka menyandang gelar Sarjana ditentukan dengan Skirpsi yang akan mereka presentasikan. Yang terpikir, “aku masih belum paham dengan konsep kelulusan seperti ini”

TUBUH YANG TELANJANG. Alarm jilid kedua ku pun berbunyi tepat pukul 07.20 pagi. Dan kutemukan tubuhku masih lemas lunglai telanjang didalam kamar mandi sembari memegangi gayung. Setitik air seakan tak ingin bercinta dengan pori-pori kulitku. Hampir 20 menit berlalu. Mataku mulai tersadar melihat kucuran air yang deras keluar dari keran, kakiku mulai kokoh menopang tubuhku yang telanjang, namun tanganku bergetar ketika segayung air mulai kuciduk dari bak mandi. Byuuuur…. Seakan langit seketika menghujam.

EKSPEKTASI DIPAGI HARI. Kembaliku menulis harapan pada waktu. Menengadah rasa hangat dari dingin pagi. Pada sebuah pertempuran, Dewi pagi datang untuk belati, darah dan luka. Oleh tangan yang terkepal, semoga sinarnya dapat menghangatkan pertempuran ini. “Ya… berharap semua akan baik-baik saja”