DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Senin, 21 Januari 2013

Manusia dan Alam


Akhir pekan ini, banyak diberitakan oleh media mengenai banjir yang menimpa ibukota Jakarta. Hampir seluruh ruas jalan digenangi oleh air, rumah-rumah tenggelam, lokomotif Negara seakan mati total. Musibah tahunan tersebut merendam sebagian aktifitas masyarakat metropolitan. Dan tak heran isu tentang pemindahan ibukota pun sontak mencuat seiring bencana ini. Coba bayangkan apa jadinya jika kelumpuhan ibukota sebagai motor penggerak akan berakibat pada kehidupan negeri ini. Directly I’m thinking the movie of “Die Hard 4”.

Siapa yang menyangka air yang pada masa kemarau dikeluhkan kehadiranya, kini telah menjadi petaka. Prihatin sebenanya melihat kondisi yang terjadi. Rumah-rumah tenggelam, banyak korban berjatuhan, tinggal dipengungsian kedinginan, dan kondisi diluar normal sebelumnya.  Who should be blamed for this disaster? Are the president, owner of building, mayor or us (the people it selves)? Yang terjadi semakin menimbulkan banyak polemik dan tanya. Masalah yang ada seyogyanya diusut dari hulu sampai kehilir untuk menemukan permasalahan yang sebenarnya. Dalam satu realitas terdapat banyak ribuan sebab-akibat.


Namun, apa yang terjadi saat ini tak lepas dari prilaku masyarakatnya sendiri yang tak ramah terhadap lingkungan. Membuang sampah (disungai) sembarangan, keluarnya limbah pabrik yang tak terkontrol, pembangunan besar-besaran tanpa memperhatikan gorong-gorong resapan air, dan masih banyak lagi contoh pencemaran lingkungan dari hal kecil yang memperparah keadaan.

Salah satu warisan kearifan tradisional Indonesia adalah falsafah Trihitakarana dari Bali yang mengatur hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain dan manusia dengan alam.“Hargailah alam, maka alam akan menghargaimu”. Dulu dalam sebuah pendakian gunung, salah seorang senior dari pecinta alam pernah menegur ketika saya membuang putung rokok (filter) sembarangan. Dia berkata butuh waktu lama puntung rokok tersebut untuk terurai. Jika butuh waktu lama untuk terurai, maka air yang menggenang akan sulit meresap masuk kedalam tanah.

Dari putung rokok, sayapun berfikir apa jadinya alam jika yang saya buang adalah sampah plastic yang butuh 30 tahun untuk hancur. Sering kita lihat penggunaan plastik dalam kehidupan kita. Dari plastic bekas barang bawaan pasar, mini market, nasi bungkus dan lainya. Semua menggunakan plastic untuk mengefesienkan barang belanjaan. Namun, apa yang akan terjadi jika semua telah selesai? Sudah pasti akan dibuang ke tong sampah. Tanpa kita sadari bahwasanya kantong plastic yang kita gunakan tidak ramah lingkungan.

Sejak saat itu, saya berusahan untuk meminimalis penggunaan plastik. Stay away from plastic. Menyimpan plastik-plastik bekas belanjaan agar tidak begitu saja dibuang (kolektor). Based of that, kita bisa belajar sederhana bagaimana manusia dan alam harus hidup berdampingan dan dapat saling bertoleransi menjaga keseimbangan ekologisnya. Bila kita manusia gagal mengatur diri, alam pun gagal mengayomi serta memberikan penghidupan yang layak. Hal ini adalah cara yang nyata dan mudah.




0 komentar:

Posting Komentar