DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Rabu, 23 Juli 2014

PIALA DUNIA lebih menarik dari pada PILPRES

9 Juli 2014. Pilpres berlangsung serentak di negeri ini, INDONESIA. Rasanya ini seperti sudah menjadi pesta Demokrasi bagi Rakyat Indonesia, pesta kebebasan masyarakat memilih pemimipinnya, pesta meyuarakan perubahan untuk negerinya.  Mereka berhak memilih calon Presidennya untuk memimpin bangsa ini 5 tahun kedepan.

Yang mengherankan bagi saya adalah kenapa politik itu ‘kejam’?  segala cara ditempuh demi mendapatkan kekuasaan. Semua jalan dihalalkan untuk jadi pemenang. Ketika moral diacuhkan tuk dapatkan kekuasaan, ketika pikiran penuh akan kata uang, ketika mata tak lagi kenal siapa rakyat, ketika hati tak lagi peduli kami melainkan partai.Ketika teman kini menjadi lawan.  Licik…inilah para elite politik negeri kita. Ibarat pelaku kriminal (pembunuh, perampok, pencuri, penipu, pengedar, penjahat) politik itu adalah bapaknya krimanal. Jadi, bapaknya yang mimpin semua pelaku kriminal itu ya politik. Keren…

Saya bukan anak bangsa yang mengerti dan paham apa itu poltik, saya juga bukan penikmat fanatic acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang penuh dengan kumpulan orang-orang pintar dalam berdiskusi,  tapi saya atau bahkan juga masyarakat Indonesia paham dan dapat menilai apa politik itu sendiri. Siapa politik itu.Bagaimana politik itu. Seperti kata para pakar politik “masyarakat kita sudah pintar dalam menilai dan memilih, mereka sudah paham mana yang benar dan salah”.

Sayapun perlahan sadar betapa poltik itu kejam ketika pemeberitaan media sudah tak lagi berimbang dan netral. Hujatan dan fitnah keji yang ditujukan pada Capres dimuat oleh media-media. Berbagai cara untuk menjatuhkan lawan ditempuh dan berusaha menciptakan stigma Capres dengan kredibiltas buruk. Inilah cara-cara kotor yang dilakukan para elite politik dan tim sukses masing masing kubu. Jujur, saya muak serta miris melihat dan mendengarnya. Terlebih ini bulan Ramadhan, apa mereka tidak lagi mengenal dosa. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, ada apa sebenarnya dibalik kursi Presiden sehingga menjadi rebutan? Saya berharap, semoga hanya ada rayap dan pengerat yang menggrogoti kursinya sampai habis. Sehingga tak ada lagi yang perlu direbutkan.  

Yang begitu mencolot dan menonjol betapa media tak lagi berimbang dan telah di intervensi oleh kader masing masing Capres adalah, ketika dua media besar (Metro TV & TV One) menayangkan hasil Quick Count Pilpres yang tidak sama. Kedua media menayangkan keunggulan Capres dukungannya masing-masing. Ha…ha…ha… sampai salah satu capres girang dan sujud syukur melihat hasil kemenangnya di TV yang sudah dirangkul jadi kadernya. Bodoh…it was so freakin damn funny. Jadi ibarat main game perang Counter Strike, yang berperan sebagai Polisinya adalah Capres dengan pasukan bersenjata lengkap, tapi musuhnya (teroris) disetting ngga pake senjata, ngga pake teman, ngga pake baju, pokoknya ngga pake apa-apa. Intinya musuhnya digunduli habis-habisan biar kalah. Saya cuman berharap, semoga sang teroris dapat tempat persembunyian yang aman dan sudah membuat surat wasiat :D

Kedua Capres memiliki visi dan misi yang baik. Saat debat juga keduanya memaparkan ide dan gagasannya untuk Indonesia yang lebih baik. Tapi seiring berjalannya waktu dan ditambah dengan atmosfir kampanye politik yang kian memanas, saya mulai mencari tau track record masing masing Capres. Bowo sosok tegas dan disiplin hasil dari didikan militer. Sedangkan Joko sosok sederhana dan merakyat yang tumbuh dan besar dari desa. Keduanya memiliki karakter yang sama-sama dibutuhkan negeri ini dari sosok pemimpin. Hmm…mungkin menurut saya bagaimana kalau kita kawinkan saja keduanya. Lalu anaknyalah yang akan kita pilih menjadi Presiden nantinya.

Ya…saya berharap siapa saja nanti yang terpilih dan dipercayai untuk menahkodai negeri ini dapat memberi perubahan baik bagi bumi pertiwi. Semoga semua harapan yang dijanji-janjikan kemarin dapat dipenuhi dan tidak hanya jadi retorika guna menarik simpatik masyarakat saja. Istilah keren dan gaulnya PHP (Pemberi Harapan Palsu). Perubahan tidak semata bergantung pada pemerintah saja, masyarakatnya pun harus memberikan solusi terbaik buat permasalahan yang dihadapi saat ini. Siapa saja nanti pemimpinnya jika masyarakatnya tidak ada niat/mau untuk berubah sama saja. Tidak ada niat untuk jadi lebih baik dan hanya mengandalakan peranan pemerintah itu pun sama saja.. Udah miskin, ngga mau kerja…ya ngegembel aja terus… Ujung-ujungnya nyalahkan pemerintah.
 
Terkait mendukung siapa, saya masih berpendirian teguh pada jari jari saya yang lentik. Untuk tahun ini saya masih tetap untuk tidak memilih. Saya juga berharap hasil Pilpres tahun ini seimbang (50-50) sehingga KPU masih belum bisa untuk menentukan siapa yang menang. Mereka hanya butuh sumbangan satu suara untuk maju menjadi pemimpin. Dan mereka tau harus lari kesiapa untuk dapatkan suara tersebut :) Saya buka penawaran dari Rp. 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) TERIMA KASIH

Satu lagi, euphoria PIALA DUNIA lebih menarik dari pada PILPRES
And the Champion of World Cup 2014 is Der Panzer Germany…