DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Kamis, 01 Juli 2010

ARTI SEBUAH KEBEBASAN

Kebebasan merupakan suatu kata yang mempunyai beribu makna tergantung siapa yang memaknainya. Ia merupakan hak setiap manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini baik secara individu maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Dalam bungkusan kebebasan ini pula terdapat hak untuk berekspresi, mengutarakan pendapat ataupun berkreasi sesuai dengan keinginan masing-masing, tetapi sebebas-bebasnya sebuah kebebasan terdapat garis pembatas yang tidak bisa dilalui, “kebebasan tidaklah absolut, karena memang harus ada batasan didalam kebebasan agar tidak mengusik ‘kebebasan’ pihak lain”. Aku ingin mendengarkan musik dengan suara keras, maka ku tinggikan volumenya“Ini adalah hakku, ini adalah PC-ku, ini adalah kamarku, terserah aku ingin mendengarkan dengan volume lirih atau keras.” tetapi temanku akan menggunakan haknya juga bahwa “Aku mempunyai hak untuk bisa tidur dengan tenang tanpa harus mendengarkan suara musikmu, tapi mengapa suara dari musikmu tanpa ijin dariku masuk kekamarku dan juga masuk kekupingku!” batasan dari sebuah kebebasan adalah ketika ia bersentuhan dengan kebebasan, harga diri serta kehormatan pihak lain, dimana setiap orang/golongan mempunyai kebebasan dan mereka mempunyai norma yang berbeda dalam mengatur batas suatu kebebasan. Sering kali kebebasan yang merupakan hak setiap insan ini dijadikan tameng untuk melegalkan segala tindakan mulai dari masalah individu sampai dengan masalah yang berkaitan dengan politik, agama, seni ataupun budaya.
Sekarang ini ketika globalisasi semakin menjamur dimana-mana sering kita dengar jargon demokrasi dilontarkan oleh para politikus, kaum intelektual serta agamawan yang katanya menjamin hak serta kebebasan individu dalam berpendapat 'pada hakikatnya tidak seindah dalam teori', malah dijadikan kendaraan untuk menuju otoritasi kekuasaan terhadap kaum minoritas. Kebebasan berpendapat sering dijadikan propaganda dalam melontarkan pandangan yang sering kali bertentangan dengan ajaran yang telah baku. Lihat saja pandangan kaum terpelajar yang menamakan diri mereka islam liberal, sering kali bertentangan dengan pendapat atau ajaran yang telah ada. Dalam tameng kebebasan yang merupakan hak setiap manusia inilah secara tidak langsung mereka telah melanggar kebebasan dan ketenangan pihak lain, lalu apakah masih wajar kalau mereka ingin hak mereka untuk dihargai? setelah terlebih dahulu melanggar privasi kebebasan pihak lain.
Memang kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa dengan kebebasan yang dimiliki, mereka bebas menafsirkan tatanan agama yang telah baku, yang bersumber dari wahyu dengan dalih bahwa kebebasan yang terbatasi akan menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Oleh: Ulil Abshar-Abdalla dengan judul "Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal", menuliskan bahwa dengan dibatasinya kebebasan manusia maka dimensi-dimensi terdalam yang subtil dari wahyu akan sulit diungkapkan oleh manusia. Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan akal manusia yang matang. Lebih lanjut ia menulis bahwa orang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan, dari menit pertama mereka itu sudah mengingkari nilai kemanusiaan. Keledai selalu takut pada kebebasan, dan terus-menerus mencari majikan yang dapat menuntunnya. Sesungguhnya Islam tidak membutuhkan orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam dari wahyu.
Disini kita perlu mengkritiki pemahaman ulil dalam memaknai "kebebasan", ia beranggapan dengan dibatasinya kebebasan, maka manusia berada dalam kurungan keterbatasan itu, sehingga tidak bebas dalam berkreasi dan berekspresi. Apakah tanpa dibatasinya suatu kebebasan akan menjamin kematangan akal manusia dalam memahami wahyu dan ayat-ayat yang diturunkan Tuhan? Tentu bagi sebagian orang akan mengatakan tidak, karena kematangan akal seseorang bukan ditentukan oleh terbatas atau tidaknya kebebasan, tapi sering kali ditentukan oleh ilmu yang dimiliki. Tapi bagi sebagian lain yang mendambakan kebebasan akan mengatakan "ya", karena kebodohan mereka akan arti suatu kebebasan itu.

Kebebasan beragama di Indonesia
Dalam Undang-undang Dasar negara kita, telah tertulis bahwa "negara memberikan kepada semua orang, hak untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing" dan menyatakan bahwa "negara adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa". Pemerintah secara umum memang menghormati kebebasan tiap individu dalam menjalankan agama mereka masing-masing. Tapi sering pula kita lihat terjadinya diskriminasi terhadap agama minoritas yang dilakukan oleh oknum pemerintah, baik yang beragama islam, kristen, hindu ataupun budha. Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Kantor Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Buruh mengenai tingkat kebebasan beragama pada tahun 2005 menulis bahwa masalah yang dialami oleh keompok minoritas untuk membangun rumah ibadah lebih sulit dibandingkan dengan kelompok minoritas. Dalam laporan yang sama juga telah tertulis bahwa pemerintah telah menutup sedikitnya tiga gereja di Jakarta secara tidak adil sepanjang tahun 2005. Hierarki kaum mayoritas juga turut menambah permasalahan, seperti dimana sebuah penyerangan mesjid dilaporkan terjadi di wilayah Talake, Ambon. Menurut Yusuf Elly, seorang pemimpin Muslim dan ketua Yayasan Jazirul Muluk, puluhan orang Kristiani membakar mesjid tersebut pada tanggal 26 April 2004, setelah menyerang sejumlah orang Muslim dengan senjata rakitan. Hal yang sama juga terjadi pada tanggal 3 Oktober, 2004, dimana Forum Komunikasi Umat Islam Karang Tengah, sebuah kelompok masyarakat Muslim setempat dengan bantuan dari anggota Front Pembela Islam (FPI), mendirikan tembok setinggi dua meter dan selebar 5 meter yang memblokir akses menuju Sekolah Katholik Sang Timur. Warga sekitar merasa keberatan dengan pengoperasian sekolah oleh sebuah paroki khatolok untuk kegiatan keagamaan, dimana bertentangan dengan ijin operasinya. Inilah bentuk gambaran arti kebebasan beragama di Indonesia pada waktu itu ataupun sampai sekarang ini, dimana kebebasan tidak disertai dengan toleransi beragama. Kebebasan hanya dimiliki oleh mayoritas, sedangkan kaum minoritas diharuskan untuk mengikuti ketentuan yang berlaku walaupun bertentangan dengan hati nurani mereka. Ini bukan salah agama yang mungkin menyebabkan perselisihan, tapi lebih jauh hal ini dikarenakan individu masyarakat yang masih awam dengan arti kebebasan.
Setiap agama menyuruh pengikutnya untuk menghormati, menghargai serta memberikan toleransi terhadap pemeluk agama lain, sehingga kebebasan yang dimiliki tiap anggota masyarakat tetap terpelihara. Peran agama dalam memelihara kebebasan individu sangatlah krusial. Dalam Islam sendiri, kebebasan adalah harta terpenting bagi manusia, yang harus dijaga dan dilindungi oleh pemerintah. Hal ini tercermin pada piagam madinah, yang mencerminkan sebuah tatanan pemerintahan yang menjamin kebebasan individu dalam menjalankan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing serta menjamin hak tiap individu secara equal tanpa membedakan gender, harta, ataupun keturunan. Pada masa sekarang ketika ilmu berkembang dengan sangat pesatnya, dan banyak munculnya kaum intelektual serta kaum agamawan, apakah kebebasan beragama masih bisa dijamin?
Berbicara mengenai kebebasan akan tidak ada habisnya, karena makna kebebasan sering kali didasari oleh ilmu yang dimiliki. Kebebasan tidaklah mutlak malah bersifat semu, karena kebebasan individu dibatasi oleh kebebasan individu lainnya, dalam semua aspek tanpa terkecuali

PUNK

PUNK. Banyak yang salah kaprah mengindentikkan anak-anak punk. Menurut anggapan mereka-mereka yang “bergaya” punk secara fashion, punk adalah sepatu boot, celana ketat, rambut mohawk dan piercing di seantero tubuh. Benarkah?

Tentu saja tidak segampang itu pantas disebut anak punk. Menurut pengertian Craig O’Hara dalam The Philosophy of Punk (1999) mendefinisikan punk lebih luas, yaitu sebagai perlawanan “hebat” melalui musik, gaya hidup, komuniti dan mereka menciptakan kebudayaan sendiri. Nah, apakah yang sekedar bergaya sok punk, bisa disebut real punk? Oknum kalau itu.

Konon, gaya hidup punk itu selalu dengan pemberontakan.

Banyak orang yang bilang kalo PUNK itu cuma gaya hidup, fashion-style, malah ada yang menganggap PUNK itu adalah anarkisme dan komunitas orang-orang gak punya agama. Padahal pemahaman seperti itu salah. PUNK sebenarnya adalah suatu paham yang mengajak para pengikutnya untuk terus melawan dan melawan, menentang segala macam ketidak-adilan, menjunjung tinggi kebebasan dan terutama adalah saling menghargai antara umat manusia. Memang style mereka sangat khas, celana ketat, sepatu boot, rambut mohawk, jaket penuh dengan pernik logam, dan sebagainya.

Punk itu lebih dari sekadar musik. Punk adalah gaya hidup yang bisa mengubah hidup dirinya atau lingkungan sekitarnya.
Punk’s not dead!
ada yang bilang, punk bukanlah fashion! Yeah, bisa dibilang begitu. Bahkan punk juga bu-kan sekadar musik. Punk adalah gaya hidup. Berarti akan nempel di keseharian kita. Jadi bagaimana dan kapan kita bisa mengaku bahwa kita adalah punkers? Apakah saat kita tiap pagi dibangunkan oleh jeritan Johny Rotten (Sex Pistols)? Atau saat kita muncul di jalan dengan rambut mo-hawk, jins penuh tambalan dan boot?
Well punk lebih dari itu. Punkers bukanlah orang yang tak mempunyai tujuan hidup. Agak sulit ya kita menjadi punkers kalau kita sendiri tidak me-ngerti kenapa orang-orang memilih menjadi punkers.
Definisi Punk
Menurut kamus bahasa Inggris, punk bisa berarti enggak penting, tidak berguna, busuk. He he he. Entah kenapa nyambung banget sama sebutan vokalis Sex Pistols. Nama aslinya Joh-ny Lyndon, tapi Steve Jones memang-gilnya Rotten. Dan jadilah nama dia Johny Rotten.
Kita lupakan saja kamus bahasa itu. Sekarang kita lihat arti punk, me-nurut seorang guru punk, Joe Kidd. Menurutnya punk punya arti yang be-rubah sesuai dengan tingkat kedewa-saannya. Saat dia berusia 13 tahun, punk baginya adalah sesuatu yang liar, dandanan yang revolusioner, eng-gak perlu ke sekolah, dan musik se-tiap saat. Lalu dia terus berpikir dan akhirnya menemukan bahwa punk adalah sebuah semangat. Semangat untuk perubahan, ketidaktergantungan, proses kreatif dan peduli tentang politik. Semakin lama pandangan punk makin luas. Tapi penekanannya tetap di bagian yang sama. Punk ada-lah sebuah semangat untuk meng-hadapi hidup dengan kreativitas tinggi.
Mereka yang memulai hidup se-bagai punkers adalah kelas mene-ngah ke bawah. Dan punya tujuan yang sangat simpel. Enggak mau di ganggu, minum, dan mendengarkan musik. Cuma tiga itu saja. Tentunya untuk terus hidup seperti itu enggak bisa terjadi begitu saja. Kasus yang hampir sama dengan proses lahirnya skinheads. Mereka tumbuh jadi orang yang bekerja keras di siang hari. Tuju-annya memang hanya mengumpulkan uang untuk having fun di malam hari. Tapi satu semangat mereka adalah untuk independent atau tidak tergan-tung. Jadi punkers selalu berusaha untuk bekerja apa pun. Inilah yang menunjukan semangat punk untuk hidup mandiri.
D.I.Y.
Ideologi D.I.Y. (do it yourself) mengesankan punkers berjiwa indi vidualis. Padahal yang dimaksud di sini adalah independent tadi. Ti-dak tergantung pada siapa pun. Selama hal itu masih bisa kita lakukan sendiri kenapa enggak? Yang menghapuskan individualis tadi adalah semangat equality. Se-mangat kebersamaan antara se-sama punkers.
Lebih jelas jika kita lihat kon-disi sebuah band. Sebuah band punk yang menganut D.I.Y. akan berusaha untuk menangani album mereka sendiri. Mulai dari proses produksi, penggandaan sampai soal distribusi. Untuk menangani hal itu sangat berat jika dilakukan oleh satu orang. Di sinilah mereka sangat memerlukan kebersamaan. Semangat kebersamaan demi tu-juan bersama.
Modal lain untuk melakukan itu semua adalah brain! Yup, kita harus punya otak dong. Kalau otak kita kosong, bakal ditipu terus. Gimana pula kita bisa menghadapi perubahan, dan mengerti tentang situasi politik. Oleh karena itulah bohong besar kalau punkers tidak memerlukan pendidikan. Walau memang tidak harus di sekolah formal.
Nah sekarang kita siap eng-gak untuk menjadi seorang punker sejati. Seseorang yang benar-benar bisa menghadapi tantangan hidup. Selalu siap menghadapi ber bagai keadaan. Bukannya berarti kita harus selalu tidur di pinggir jalan. Tapi kita siap kalaupun ha-rus hidup di pinggir jalan. Bukan cuma berani menggunakan celana jeans ketat, rambut mohawk, se-patu boots saja. Tapi kita juga ha-rus malu kalau masih minta uang ke orang lain. Termasuk orang tua kita.
Bagaimana oi? Siap untuk bekerja di siang hari dan berpesta di malam hari? Ayo jangan bikin malu punk!

Mungkin kalo mau dihitung, banyak banget aliran-aliran dari punk itu sendiri. Ada street punk, punk jenis ini biasanya hanya menampilkan sisi keserdehanaan dan sisi jalanannya. biasanya pengikut-pengikutnya adalah kalangan anak jalanan dan pengamen jalanan. Jauh beda sama glamour punk yang menunjukkan sisi keglamouran dari punk itu sendiri, pengikutnya biasanya adalah golongan-golongan orang-orang kaya yang selalu menampakkan kekayaannya. Kalo melodicktz punk lain lagi, biasanya style mereka lebih mendekati anak-anak skater. Dan mereka lebih mengfutamakan kegembiraan dan lebih menonjolkan kekonyolan dalam kehidupan mereka. Beda lagi sama Emmo punk, yang biasanya pengikut-pengikutnya dalah anak-anak muda dan remaja yang jiwanya sedikit labil. Punk ini lebih menunjukkan emosi dalam berekspresi. Masih banyak lagi aliran punk yang gak bisa di bahas satu-satu, tapi intinya adalah satu. Mereka tetap PUNKER (sebutan bagi pengikut PUNK).

Ada satu hal yang harus dicamkan pada paham PUNK ini, junjung tinggi EQUALITY. Karena hanya itulah nyawa dari PUNK…

Indonesia yang bangga akan budaya Anarkismenya

Akhir akhir ini bahkan setiap hari yang sering saya lihat berita berita di tv isinya semua kebanyakan menyangkut kekerasan, bentrok, perkelahian, kericuhan, dsb. Entah itu dari segi politik, sosial,ekonomi, dan budaya. Sempat saya tertawa sendiri di kamar, apakah mereka ini sama seperti supporter sepak bola yang memilki fanatisme berlebihan? Ketika tim nya kalah, mereka mulai anarkis dengan cara merusak dan membakar semua fasilitas yang ada.
Apakah memang seperti itu wajah Indonesia...?

Mengerikan memang ketika kita melihat sebuah anarkisme yang menjamur dan membudaya di negeri demokrasi ini. Berbondong bondong masyarakat berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBM hingga sampai ada yang membawa hewan peliharaannya yang seharusnya berada disawah (Sapi), beramai ramai mahasiswa berunjuk rasa mendatangi DPR untuk memprotes kinerja pemerintah yang dirasa masih kurang, hingga membakar boneka presidennya sendiri, mengerahkan ratusan polisi berpakaian lengkap untuk menyerang sebuah universitas dan makam keramat, hingga menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan, membabi buta satpol PP menggusur pedagang kaki lima dan menghancurkan bangunan bangunan rumah warga di daerah pinggiran kota, hingga ricuh dengan masyarakatnya, semakin liarnya FPI yang merusak ruko ruko dan tempat tempat yang menurut mereka melenceng dari keyakinan mereka tanpa kompromi, pertikaian mahasiswa sesama universitas hanya dikarenakan saling ejek antar fakultas, masyarakat mengeroyok seorang polisi hingga tewas tanpa alasan yang jelas, polisi menindas seorang bapak tua yang sudah tua rentah (50th) hanya karena ketahuan mencuri. Ternyata anarkisme tidak hanya ada dijalan jalan saja, anarkisme juga terjadi di dalam ruangan sana, di tempat yang seharusnya dihormati kedudukanya, seperti di ruang sidang paripurna DPRD. Seorang ketua umum DPRD Sumatera Utara H. Abdul Aziz Angkat, tewas dikeroyok massa yang menyerang dan mengamuk diruang sidang paripurna. Anarkisme terjadi lantaran keinginan para pengunjuk rasa yang mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli tidak ditanggapi oleh anggota dewan. Naas memang, diruangan yang semestinya hanya tejadi sebatas perang mulut, adu argumentasi, beda opini, berubah menjadi perang fisik.

Semua saling serang dan saling mangsa memangsa sesama manusia tanpa melihat kerugian apa yang akan terjadi. Dari sebagian contoh anarkisme diatas, kalau dilihat lihat sepertinya mereka semua sama seperti dengan seekor binatang yang tidak memiliki hati nurani, yang hanya hidup untuk berebut makanan dan kekuasaan. Berdemokrasi dengan cara fisik, kekerasan, bukan melalui musyawarah dan diskusi.