DO THE BEST BEFORE TO BECOME INSANE

Rabu, 06 Juli 2011

Pemblockiran FB dan HP

Apes...kok bisa secara bersamaan semua media komunikasi yang kumiliki seakan diblockir sama yang Punya. Mulai dari jejaring sosial Facebook (FB) yang lagi ditangguhkan gara-gara kena Virus dan Handphone (HP) Samsung lipatku yang sudah dua hari ini bermasalah dengan charger atau baterainya. Aikh...aikh...aikh...lha kok bisa tu lho...? (jadi serasa diasingkan) Ya Sudahlah...

Jadi untuk sementara ini, aku g bisa menggunakan fasilitas itu semua. Dan untuk sementara pula, kalian ngga bisa berkomunikasi dengan aku dulu. Kalau ada sesuatu hal/keperluaan yang sifatnya sangat urgent dengan aku, kalian bisa langsung datang ke alamat berikut :
Alamat : Jl. Joyo Mulyo gang 1 nomer 384 B Dinoyp-Malang
Terima Kasih

Selasa, 05 Juli 2011

Tetes air mata akan kesabaranmu (WONDER WOMEN)

Entah mengapa hal yang selama ini kubenci harus kualami? Sampai kutumpahkan ditulisan ini, kejadian itu pun terus menjadi pertanyaan dibenakku. Selama ini, aku tidak pernah begitu merasa sedih dan terharu pada sebuah kejadian, yang akhirnya membuatku menetikan air mata pagi itu. Satu sosok yang ternyata dapat membuatku seperti ini, sosok yang begitu sabar dan lembut dalam menjalani hari-harinya. Sosok yang membuatku begitu terharu akan kegigihannya. Ibu Kost.

Pagi itu, awalnya hanya terjadi pertengkaran kecil dua saudara diruang tamu yang tak lain mereka adalah anak kandung beliau. Percekcokan mulutpun merambah sampai dapur antara mereka. Suasana rumah bertambah semakin memanas dan mencekam ketika suara keras barang-barang perabotan mulai dibanting. Suara bising pun terdengar hingga menarik perhatianku. Percekcokan yang memanjang dan tak kunjung selesai itupun membuatku semakin muak berada disini. Tidak ada yang pernah mau mengalah, tidak ada yang pernah mau perfikir dewasa. Selalu berujung dengan kebisingan dan keributan, yang seakan sudah menjadi icon akan dirumah ini.
Bergegasku menggendong Ozan keluar yang sedang melihat ibunya bertengkar dibalik horden pintu. Ku hanya tak ingin melihat bocah sekecil dia menjadi korban perselisihan orang tuanya sepertiku dulu.

Tak kuat melihat anak-anaknya bertengkar, beliaupun tak kuasa menahan tangisnya. Tidak cuman kali pertama kumelihat beliau menangis dirumah ini. Setiap kali terjadi keributan yang melibatkan anggota keluarganya, dia selalu datang dan meminta maaf padaku akan kejadian tersebut. Sungguh begitu mulia dan tegarnya beliau dalam menghadapi cobaan hidup.

Melihat kegigihan beliau dalam membesarkan dan menafkahi sendiri kedua anaknya, akupun tersentuh dan mulai meneteskan air mata yang telah lama mengering. Tak kuat membendungnya, aku pun beranjak menuju kamar mandi tuk mengusap butiran air mata itu. Entah mengapa air mata itu tiba-tiba saja peka dan keluar dari kedua bola mataku terhadap sosok beliau. Hingga kinipun, kumasih bertanya-tanya akan air mata ini.